Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Etika Dakwah

1. Hakikat Etika Dakwah
Sebelum memaparkan apa itu etika dakwah, terlebih dahulu perlu dijelaskan istilah etika itu sendiri. Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti adat kebiasaan. Etika juga terkadang diartikan sebagai ilmu apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral. Menurut Mafri Amin, etika merupakan pencerminan dari pandangan masyarakat mengenai yang baik dan buruk, serta membedakan perilaku yang dapat diterima dengan yang ditolak guna mencapai kebaikan dalam kehidupan bersama. Ki Hajar Dewantara mengartikan etika sebagai ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia, terutama yang berkaitan dengan gerak gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan, sehingga dapat mencapai tujuan dalam bentuk perbuatan.
Dalam konteks dakwah, etika dakwah dapat diartikan sebagai aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang merumuskan perlakuan benar dan salah dalam menegakkan dakwah Islamiyah. Sedangkan dari segi isinya, etika dakwah adalah etika Islam itu sendiri, dimana seorang dai harus melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan menjauhkan diri dari tindakan yang tercela sesuai ajaran Islam.
Namun secara khusus, menurut Ali Mustafa Ya’kub terdapat kode etik tersendiri tentang penegakan dakwah. Dengan kata lain, dalam berdakwah terdapat beberapa etika yang merupakan rambu-rambu etis yang harus dimiliki oleh unsure-unsur dakwah yang meliputi: etika dai, etika mad’u, etika Wasilah al-Da’uah, etika maudlu al-Da’uah dan etika ushlub al-Da’wah.
2. Etika : Unsur-unsur Dakwah
a. Etika Dai
1. Sikap dan Perilaku yang Harus Dimiliki Dai
Etika yang harus dimiliki oleh seorang dai menurut Al-Quran ada 37, yakni: Takwa, Ihsan, Amanat, Istiqamah, Tawadhu, Tawakal, Tobat, Khasyah, Roja, hub, Al-Haya, Ridha, Rahmat, Sabar, Hikmah, Zuhud, Syukur, Berpendirian, Ketenangan, Shidiq, Menjaga Akhlak kepada Allah, Mushlih, Menjaga Akhlak kepada Nabi, Inabah, tathir dan taubah, Dermawan atau gemar berinfak, Mendahulukan kepentingan umum, Silaturahmi, Bir al-Walidaini, Gemar berbuat baik, Gemar bekerja sama dan tolong-menolong, Adil, Menjaga kehormatan diri, pemaaf, Menyadarkan diri hanya kepada Allah SWT, Senantiasa siaga, waspada, cinta dan berkeyakinan, Pandai memilih perkumpulan, dan Menjaga hubungan dengan hamba sahaya.
Dan sepatutnya seorang dai memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung dakwahnya, antara lain: Ikhlas, Berilmu, Sabar dan Hilm, Rifq (lemah lembut) ketiga sifat ini (ilmu, rifq dan hilm) dikatakan Syeikhul Islam sebagai keharusan bagi dai. Beliau bersabda:”Harus memiliki tiga hal ini: ilmu, kelemah-lembutan dan sabar. Berilmu sebelum melakukan amar makruf nahi munkar, berlemah-lembut bersamanya dan bersabar setelahnya, walaupun setiap darisifat-sifat tersebut harus bersama ada dalam keadaan-keadaaan yang ada.” Kesatuan amal dan ucapan, Memperhatikan keadaan para mad’u, Berkeyakinan sebagai pewaris Nabi, Berdakwah dengan hikmah dengan menggunakan Wasilah dan ushlub yang sesuai dengan tempat dan kondisi, dan Memiliki Akhlak dan adab yang menjadikannya sebagai qudwah hasanah bagi para mad’u-nya.
2. Sikap dan Perilaku yang Harus Dijauhi Dai
Diantara akhlak tercela yang harus dijauhi dai antara lain: Menuruti hawa nafsu, Berprasangka buruk, Berbaur dengan orang-orang bodoh, Berakhlak buruk kepada Allah, Sombong dan berbangga-bangga, Takabur, Menipu, Berlebih-lebihan, Menyebarkan kejelekan, Permusuhan, Makan riba, Sombong, Membuat kerusakan, Kikir dan bakhil, Mengungkit-ungkit kebaikan dan menyakiti orang lain, Bathr, Ghadab, Zalim, Buhtan, Tabdzir, Menghalang-halangi kebenaran, Ghibah, Qathil, Qadzaf, Kufur nikmat, Makar, Memata-matai, Berangan-angan, Memanggil dengan nama yang jelek, Pasrah (tanpa usaha), Pengecut, Berkhianat, Bermuka dua, Riya, Ragu-ragu, Ghadar, Curang, Homoseksual, Bisik-bisik yang tercela, Melanggar janji, Mengadu domba, dan Hamz dan Lamz.
b. Etika Mad’u
Etika mad’u (sebagai murid) terhadap dai (guru) menurut Al-Quran antara lain:
1. Menghormati dai sebagai gurunya (Al-Kahf : 70,73, 75, 76 dan 78)
2. Memperhatikan keterangan yang disampaikan dai (Al-Kahf :70, 72, 73, 75, 76 dan 78)
3. Sabar dalam proses mendapatkan ilmu melalui kegiatan dakwah yang diikuti (Al-Kahf : 69)
4. Menjaga etika di dalam majelis
5. Mengkritik dengan etik (Al-Baqarah : 215, Al-an’am : 46, 47, 63 dan 81)

c. Etika Wasilah al-Da’uah
1. Media dakwah tidak boleh bertentangan dengan prinsip ajaran Al-Quran dan Sunnah
2. Dalam menggunakan media dakwah tidak menjurus pada hal-hal yang diharamkan oleh agama dan tidak menimbulkan kerusakan
3. Dapat digunakan dengan baik
4. Media relevan dengan situasi dan kondisi konteks dakwah
5. Media dapat menjadi perantara untuk menghilangkan kesesatan dari orang-orang yang ingkar dan menyalahi agama
6. Jelas dengan tahapan penggunaannya
7. Media secara fleksibel dapat digunakan dalam berbagai kondisi mad’u
8. Digunakan dalam berbagai situasi waktu dan keadaan.

d. Etika maudlu al-Da’uah
Materi dakwah adalah mengajak kepada jalan Allah, yakni mengerjakan seluruh perintaj Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Allah berfirman dalam menjelaskan makna dakwah:”mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” Al-Baqarah : 221
Dengan kata lai, focus materi dakwah adalah mengajak dan menyeru manusia untuk melaksanakan perintah Allah berupa iman kepada-Nya dan seluruh ajaran para rasul-Nya.
e. Etika ushlub al-Da’wah
Ushlub al-Da’wah dalam pandangan etika, mengandung pengertian bahwa cara menyampaikan dakwah harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi objek dakwahnya. Dalam bahasa arab terdapat ungkapan: al-Tahriqah ahamu min al-Maddah, bahwa tata cara atau metode lebih penting dari materi karena betapapun sempurnanya materi tetapi disajikan dengan cara yang sembrono, tidak sistematis dan serampangan akan menimbulkan kesan yang tidak mengembirakan. Sehingga metode dakwah dipandang etik adalah metode dakwah yang actual, factual dan kontekstual.
Dikutif : Sukayat,Tata. Quantum Dakwah

(Hani Hadiyanti)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: